LONTO LEOK

Andalan

OLEH: ERNUZ CLARZHA

IMG-20171130-WA0106

Indonesia patut bersyukur sebagai sebuah negara yang merdeka. Miliknya adalah segala apa yang ada dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. Segala apa yang ada dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Tercatat ada ratusan suku daerah dan etnis yang mendiami tiga puluh tiga provinsinya. Ada ratusan bahasa daerah beserta dialeknya masing-masing. Ada ratusan jenis tarian daerah, ratusan jenis pangan lokal, keindahan alamnya yang dipuja dunia, juga beribu kearifan hidup yang menjadi potensi baginya untuk menjadi sebuah bangsa besar yang banyak menyimpan narasi peradaban.

Walau jaman terus bergulir, perubahan semakin niscaya, ia senantiasa berusaha untuk tetap bergeming. Tak membiarkan dahsyatnya gelombang globaliasai yang membuat hubungan antar manusia hampir tak lagi berbatas melukai dan menghantamnya. Sebisa mungkin ia menangkis tantangan memabukkan yang setiap saat menggodanya yang kemudian membuatnya kehilangan identitas dan kekhasan.

Memang, harus juga diakui, perubahan demia perubahan yang dicipatakan dan dihadirkan dunia, membuatnya linglung dan mulai nampak berjalan tanpa arah. Arus informasi yang luar biasa dahysatnya, program-program televisi yang lebih memilih mendustai dan mengkhianatinya, secara perlahan mulai mereduksi identitas dan kekhasannya sebagai sebuah bangsa yang penuh warna kekhasan. Bahasa-bahasa daerah tak lagi seksi untuk dipelajari, tarian-tarian daerah semakin kurang diminati, dan kearifan-kearifan yang dimilikinya semakin hilang dari keseharian. Anasir-anasir yang membentuknya sebagai sebuah bangsa, mulai berbicara kemerdakaan, kebebasan, dan kepongahan. Indonesia kita semakin pudar dari kebhinekaannya.

Pun demikian, dalam lorong gelap tak mau kemana arah untuk bertemu cahaya diujung terowongan, beberapa daerah kebanggaanya tetap berusaha setia pada jalan hidup identitas kedaerahan yang sudah terlanjur mengakar dari generasi ke generasi. Bukan untuk menerjemahkan ulang arti ragam perbedaan yang dikatakan pendiri bangsa terdahulu, namun semata karena sudah menjadi jalan hidup yang tak bisa dipisahkan. Justru, kealpaan akannya membuat ruh kedaerahan yang melekat padanya akan hilang dan tak bernama.

Adalah  Manggarai, sebuah daerah di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang menjadi salahsatu diantara daerah yang tetap setia pada ruh kekhasan daerah dalam kesehariannya. Ragam aktivitas hidup yang dilakoni masyarakatnya sedikitnya masih mencerminkan identitas dan kekhasan yang membanggakan. Entah berbentuk kearifan dalam berhubungan dengan sesama dan alam maupun dalam bentuk artefak  budaya yang menjadi ciri khas yang dibanggakannya. Dari sekian kearifan dan artefak budaya yang hingga kini masih hidup dalam keseharian warga Manggarai, baik Kabupaten Manggarai sendiri, Kab Manggarai Barat dan Kab Manggarai Timur adalah budaya “LONTO LEOK”

Budaya lonto leok merupakan bentuk musyawarah-mufakat dalam konteks masyarakat adat Manggarai, Flores, NTT. Seiring berjalannya waktu budaya ini merupakan simbol persatuan, persaudaraan dan kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah sosial dan budaya.

Kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun dalam kehidupan orang Manggarai ini menjadikan lonto leok  sebagai budaya yang tidak bisa dilepas-pisahkan dalam interaksi sosial masyarkat Manggarai. Dalam interaksi sosial, lonto leok biasa digunakan sesuai dengan konteks dan tujuannya seperti dalam persiapan upacara/ritual adat maupun sebagai media diskursus sosial kemasyarakatan.

 

IMG-20171130-WA0106

Iklan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.